22 November 2019
RSS Facebook Twitter Linkedin Digg Yahoo Delicious
Hot News

Hot News (3)

Thursday, 31 January 2013 03:48

Pemanfaatan Teknologi nano untuk Industri

Written by

Makanan merupakan salah satu kebutuhan terpenting dalam kebutuhan manusia . Oleh karena itu berbagai upaya telah dicoba dan dilakukan agar kebutuhan akan pangan dapat terpenuhi dengan baik. Pada awalnya jumlah atau kuantitas menjadi tujuan utama dari berbagai usaha memaksimalkan hasil yang dilakukan , misalnya dengan intensifikasi dan ektensifikasi pertanian. Upaya dengan orientasi jumlah ini masih dilakukan oleh negara sedang berkembang dimana kekurangan akan bahan pangan masih sering terjadi sebagai akibat kondisi lingkungan ataupun ketidakstabilan politik. Sedangkan di negara maju , sudah mampu menerapkan cara-cara memaksimalkan hasil untuk mencapai tujuan kuantitaf di dalam produksi, sehingga jumlah produk bahan pangan sudah dapat memenuhi permintaan sendiri bahkan berlebih. Karena hal tersebut mereka lebih menekan kan upaya peningkatan kualitas produk bahan pangan yang dihasilkan .

Disamping itu surplus produk pangan yang dihasilkan mendorong negara maju melakukan perdagangan dengan negara lain yang masih belum dapat memenuhi kebutuhannya akan produk tersebut . Hal ini yang menjadi latar belakng berkembangnya industri pengolahan bahan makanan.

Pasar yang sangat kompetitif menyebabkan teknologi sangat penting untuk menjaga agar konsumen tetap loyal pada suatu produk tertentu. Konsumen membutuhkan makanan dengan kualitas yang baik , sehingga dimasa yang akan datang produk yang mempunyai karakteristik kaya rasa , tahan lama , segar dan aman akan menguasai pangsa pasar.

Teknologi nano yang merupakan teknologi yang relatif baru adalah teknologi yang melibatkan pembuatan dan rekayasa material organik dan anorganik untuk menghasilkan material nano . Material nano ini selanjutnya dapat dipergunakan untuk pembuatan instrument nano. Metode yang teliti dan efektif dapat dikembangkan dengan menggunakan instrumen ini .

Kajian ini akan membahas mengenai berbagai macam metode pemanfaatan teknologi nano terutama dalam bidang pemrosesan bahan makanan.

Pengertian Teknologi Nano

Definisi dasar dari teknologi nano adalah suatu proses rekayasa dari fungsi sistem pada tingkat molekular. Teknologi ini mengacu pada manipulasi atau perakitan diri dari atom , molekul atau kelompok molekul menjadi material atau alat dengan sifat-sifat baru. Cara kerjanya melalui proses “ top down “ ataupun “ bottom up “. Top down berarti memperkecil ukuran sampai pada skala nano contohnya diterapkan pada elektro nano dan rekayasa nano . Sedangkan bottom up merupakan kebalikan proses dari top up , dimana pada proses ini atom-atom atau molekul dimanipulasi sehingga menjadi susunan dengan skala nano . Hal ini lebih menyerupai biokimia atom.

Nano sendiri berasal dari kata Yunani yang berarti kerdil , kemudian diturunkan menjadi kata nanometer yang merupakan satuan pengukuran panjang , dimana satu meter sama dengan satu miliar nanometer atau selebar ukuran tiga atau empat atom. Teknologi nano secara umum merupakan pengembangan teknologi yang mengacu pada material dengan skala nano umumnya 0,1 sampai dengan 100 nanometer.

Teknologi nano mengalami perkembangan setelah diperkenalkan pertama kali oleh K. Eric. Drexler pada tahun 1980 –an.Menurut Mihail ( mike ) Roco dari US National Nanotechnology Initiative .Perkembangan teknologi nano dapat dibagi menjadi empat tahap.Tahap pertama merupakan periode sampai tahun 2000 , dimana struktur nano masih bersifat pasif. Pada periode ini partikel atau susunan nano didesign untuk melakukan hanya satu tugas. Contohnya adalah struktur nano terdispersi misalnya aerosol dan koloid serta produk yang berupa struktur nano misalnya coating , polimer dan keramik.

Tahap yang kedua berlangsung sampai dengan tahun 2005 . Pada tahap ini struktur nano bersifat aktif ( active nanostructure ) dan dihasilkan dua jenis sifat produk, yaitu :

1. Bio-active , produk jenis ini mempunyai efek terhadap kesehatan

Contohnya : targeted drugs , biodevice

2. Fisika –kimia aktif

Contohnya : 3D transistor , amplifier , actuator .

Sampai dengan tahun 2010 merupakan tahap ketiga yang disebut sebagai system of nanosystem . Pada tahap ini menonjolkan tentang sistem nano dengan ribuan komponen yang berinteraksi , misalnya robotic dan jaringan 3 D.

Beberapa tahun kemudian diharapkan sudah berkembang sistem nano yang terintegrasi dan dapat mempunyai fungsi menyerupai sel mamalia dengan sistem hierarki di dalam sistem tersebut . Misalnya design atomic. 

Gambar 1. Tahap-tahap perkembangan teknologi nano

Teknologi nano kadang disebut sebagai teknologi yang mempunyai kegunaan umum, karena dengan adanya teknologi ini akan mempengaruhi berbagai bidang industri pada khususnya dan sosial pada umumnya . Dengan penerapan teknologi ini dalam industri maka akan tercipta produk yang lebih baik , lebih awet , lebih bersih dan lebih pintar .

Didalam industri makanan , produk yang menerapkan teknologi nano di dalam proses produksinya disebut sebagai “ nanofood “.Sehingga dapat diambil suatu pengertian bahwa nanofood adalah makanan yang menerapkan teknologi nano baik secara teknik maupun peralatan yang dipergunakan dalam proses pengolahan , produksi maupun pengemasan . Nanofood bukan berarti makanan yang dimodifikasi secara atomic ataupun diproduksi dengan menggunakan mesin nano. . Meskipun ada pemikiran untuk mewujudkan hal tersebut , tetapi hal itu masih sangat jauh dari kenyataan.

Penerapan Teknologi Nano dalam Industri Makanan

Secara umum penerapan teknologi dalam industri makanan dapat dibagi menjadi beberapa bidang , yaitu : proses ( processing ) , pengawetan ( preservation ), peningkatan cita rasa dan warna ( flavor and colour improvement ) , keamanan ( safety ) dan pengemasan ( packaging ).

1. Dalam bidang proses ( processing )

Teknologi nano memberikan alternatif dalam pemrosesan makanan sehingga akan dihasilkan produk dengan kualitas yang lebih baik . Penerapan teknologi ini dalam pemrosesan makanan meliputi dua hal , yaitu :

a. Sintesa bahan

Proses sintesa bahan meliputi pembuatan makanan fungsional ( interactive food ) . Makanan fungsional merupakan makanan yang dapat merespon kebutuhan tubuh akan suatu nutrien dan memenuhi kebutuhan itu dengan cara yang efisien. Salah satu contoh yang sudah dikembangkan adalah nanocapsule yang mengandung minyak ikan tuna ( sumber asam lemak omega 3 ). Nanocapsule ini didesign untuk dapat pecah setelah mencapai perut , sehingga rasa tak enak dari minyak ikan tidak mengganggu .Produk lain yang telah dikembangkan adalah Nano-Sized Self-Assembled Liquid Structure ( NSSL ) yang merupakan teknologi yang dapat mengantarkan nutrien dalam ukuran partikel nano ke dalam sel .

Partikel nano yang dipergunakan dapat berupa ” soft particle ” yang berupa bahan organik atau ” hard particle ” yang berupa bahan non organik. Partikel nano yang dapat dimakan ( edible ) dapat dibuat dari bahan silikon atau keramik. Bahan yang lain juga dapat digunakan apabila dapat bereaksi dengan panas tubuh atau secara kimia dapat bereaksi dengan reaksi kimia dalam tubuh seperti polimer .

b. Proses pemecahan ( fraksinasi )

Proses fraksinasi secara umum adalah pemecahan ukuran molekul suatu senyawa sampai dengan ukuran partikel nano ( ukuran diameter 1 – 100 nm ).Proses ini banyak digunakan pada pembuatan emulsi , gel dan foam . Produk yang telah dikembangkan adalah ice cream rendah lemak dengan kandungan lemak berkisar 16 % sampai dengan 1 % . Ice cream jenis ini dibuat dengan cara memperkecil ukuran partikel emulsi sampai dengan ukuran nano . Partikel emulsi ini akan memberi tekstur yang baik pada ice cream.

2. Peningkatan cita rasa ( flavor and colour improvement )

Cita rasa adalah salah satu indikator kualitas dari suatu produk makanan . Dalam hal ini konsumen sangat memegang peranan penting.

Teknologi nano mamberikan pengembangan makanan interactive yang memberikan kebebasan konsumen untuk memilih rasa dan warna dari makanan yang akan dimakan. Pembuatan nanocapsule yang berisi warna dan rasa makanan memberikan peluang pada konsumen untuk memilih rasa dan warna yang diinginkan. Nanocapsule ini akan bersifat inert sampai dengan makanan dikunyah dalam mulut .

3. Pengawetan ( preservation )

Makanan merupakan komoditas dengan karakteristik mudah rusak dan tidak tahan lama .Untuk mempertahankan kualitas agar sama dengan pada saat diproduksi , maka produk makanan harus melalui proses pengawetan baik secara fisik maupun kimia .Teknologi nano memberikan cara baru dalam proses tersebut., diantaranya adalah :

- Pemberian nanopartikel silver dalam plastik pada saat produksi kaleng untuk penyimpanan makanan . Nanopartikel silver dapt membunuh bakteri yang hidup di makanan yang disimpan dalam kaleng. Hal ini dapat mengurangi resiko adanya bakteri yang membahayakan kesehatan.

- Penggunaan nanopartikel silikat dalam plastik film yang digunakan untuk pengemasan makanan. Partikel nano ini dapat berfungsi sebagai penghalang yang dapat mencegah perpindahan gas seperti oksigen dan uap air dari dan ke dalam kemasan makanan.Mekanisme ini dapat mencegah terjadinya kerusakan makanan.

- Penambahan nanopartikel zinc oksida pada plastik yang dipergunakan untuk pengemasan makanan. Partikel zinx oksida dapat menghalangi sinar ultraviolet . Disamping itu partikel tersebebut memberikan efek antibakteri , meningkatkan kekuatan dan stabilitas plastik film .

4. Keamanan ( safety )

Faktor keamanan juga merupakan salah satu hal yang dipertimbangkan oleh konsumen sebelum mereka membeli suatu produk makanan. Produsen harus mampu memberikan keyakinan kepada konsumen mengenai keamanan makanan yang diproduksinya .

Teknologi nano mengembangkan cara untuk menjamin keamanan suatu produk makanan. Penerapan nanosensor pada plastik yang dipergunakan untuk pengemasan , memungkinkan untuk mendeteksi gas yang keluar dari makanan yang sudah rusak . Gas tersebut akan memicu nanosensor sehingga nanosensor akan memberi respon berupa perubahan warna pada kemasan . Dengan perubahan warna tersebut , konsumen akan tahu bahwa makanan yang ada di dalam makanan tersebut sudah tidak dapat dikonsumsi .

Penggunaan nanosensor tidak hanya pada kemasan , tetapi juga pada proses produksi . Nanosensor dikembangkan untuk dapat mendeteksi bakteri dan berbagai kontaminan seperti salmonella yang mungkin ada di dalam makanan pada unit pengemasan. Dengan teknik ini , pengujian sampel dapat dilakukan lebih sering tanpa harus mengirim sampel ke laboratorium dan menekan biaya pemeriksaan.

5. Pengemasan ( packaging )

Pengembangan teknologi pengemasan ditujukan untuk memperpanjang umur dan mempermudah distribusi produk kepada konsumen . Sistem pengemasan untuk masa yang akan datang diharapkan mampu menutup lubang-lubang kecil pada kemasan dan memiliki respon yang baik terhadap lingkungan ( contohnya perubahan suhu dan kelembaban). Teknologi nano yang sudah diterapkan dalam bidang ini contohya adalah penggunaan ”clay nanocomposite ”yang disebut imperm dalam botol ringan , karton dan kemasan plastik film yang lain dan berfungsi sebagai penghalang yang bersifat impermeable terhadap gas- gas seperti oksigen atau karbondioksida .Nanocomposite ini banyak digunakan pada botol bir dan minuman ringan yang membutuhkan kemasan bersifat impermeableterhadap gas .

Thursday, 31 January 2013 03:43

Mengenal Nanoteknologi

Written by

Dunia informatika dan komputer/ elektronik bisa menikmati adanya kuantum yang mampu mengirimkan data dengan kecepatan sangat tinggi. Superkomputer di masa depan tersusun dari chip yang sangat mungil, tetapi mampu menyimpan data jutaan kali lebih banyak dari komputer yang kita gunakan saat ini. Begitu kecilnya superkomputer itu, kita mungkin hanya bisa melihatnya dengan menggunakan mikroskop cahaya/elektron. Peran teknologi nano dalam pengembangan teknologi informasi (IT) sudah tidak diragukan lagi. Bertambahnya kecepatan komputer dari waktu ke waktu, meningkatnya kapasitas hardisk dan memori, semakin kecil dan bertambahnya fungsi telepon genggam, adalah contoh-contoh kongkrit produk teknologi nano di bidang IT.

 

Ketika ukuran satu buah transistor bisa dibuat lebih kecil maka kepadatan jumlah transistor pada ukuran chip yang sama secara otomatis akan menjadi lebih besar. Dalam pembuatan LSI (large scale integrated sedapat mungkin jumlah transistor dalam satu chip bisa diperbanyak. Tahun 2005, INTEL berhasil meluncurkan 70 Megabit SRAM (static random access memory) yang dibuat dengan teknologi nano proses tipe 65 nanometer (nm). Pada produk baru ini, di dalam satu chip berisi lebih dari 500 juta buah transistor, dimana lebih maju dibanding teknologi processor tipe 90 nm yang dalam satu chipnya berisi kurang lebih 200 juta transistor. Diperkirakan sejalan dengan terus majunya teknologi nano, ukuran transistor terus akan mengecil sesuai dengan hukum Moore dan processor tipe 45 nm masuk pasar tahun 2007, dan selanjutnya processor 32 nm pada 2009.

Nanoteknologi mencakup pengembangan teknologi dalam skala nanometer, biasanya 0,1 sampai 100 nm (satu nanometer sama dengan seperseribu mikrometer atau sepersejuta milimeter). Istilah ini kadangkala diterapkan ke teknologi sangat kecil. Artikel ini membahas nanoteknologi, ilmu nano, dan nanoteknologi molekular ”conjecture”.
Konsep self-assembly (sistem dan alat yang mengembangkan dirinya sendiri berdasarkan reaksi kimia maupun interaksi yang lain antar komponen berskala nano juga menjadi tren utama dalam nanoteknologi.

Istilah “nanoteknologi” digulirkan pertama kali oleh Norio Taniguchi dalam presentasi konferensi tahun 1974-nya yang berjudul “Konsep Dasar NanoTeknologi”. Nanoteknologi berdampak di bidang ilmu pengetahuan dan kerekayasaan serta setiap sisi kehidupan manusia sebagaimana yang kita ketahui dalam dekade pertama abad ke-21 ini. Banyak yang percaya nanoteknologi mampu menyembuhkan sebagian besar penyakit medis pada manusia. Memang aplikasi sebagian besar inovasi di nanoteknologi saat ini hanya bersifat spekulatif dan teoritis, tapi sudah banyak juga yang menjadi aplikasi praktis. Tabung nano karbon, molekul karbon berbentuk pipa yang berstruktur unik serta punya sifat-sifat yang dimiliki arus listrik adalah salah satu contohnya. Tabung nano karbon sudah diaplikasikan pada layar beresolusi tinggi dan memperkuat materi-materi di bidang industri.

Jepang dan AS merupakan dua negara terdepan dalam riset nanoteknologi. Pemerintah Jepang, melalui Federasi Organisasi Ekonomi Jepang, Kaidanren, membentuk Expert Group on Nanotechnology sebagai motor penelitian nanoteknologi. AS mulai serius mengembangkan nanoteknologi tahun 2000 dan mendirikan National Nanotechnology Initiative. Selain badan pemerintahan, perusahaan swasta juga serius mengadakan riset pengembangan nanoteknologi.

IBM Zurich Research Laboratory yang dipimpin oleh Petter Yettiger dan Gerd Binning, mengembangkan instrumen penyimpan data sebesar jarum nano dengan teknik scanning tunneling microscope. Sehingga IBM mampu menyimpan 25 juta halaman buku dalam alat penyimpanan yang ukurannya hanya sebesar perangko. Prototipe alat penyimpan data ini dinamakan Millipede. Intel Corporation pun mengembangkan prosesor yang memiliki kemampuan sepuluh kali lipat dibanding Pentium 4.

Manfaat technologi dalam kehidupan cukup luas antara lain :
Dalam bidang kesehatan, melalui nanoteknologi dapat diciptakan “mesin nano” yang disuntikan ke dalam tubuh guna memperbaiki jaringan atau organ tubuh yang rusak. Penderita hipertensi, misalnya, kini tak perlu lagi disuntik atau mengonsumsi obat, cukup hanya disemprot saja ke bagian tubuh tertentu. Nanoteknologi mencakup pengembangan teknologi dalam skala nanometer, biasanya 0,1 sampai 100 nm (satu nanometer sama dengan seperseribu mikrometer atau sepersejuta milimeter). Untuk industri logam, dapat diciptakan sebuah materi logam alternatif yang murah, ringan dan efisien, yang dapat menekan biaya produksi kendaraan, mesin dan lainnya. Nanoteknologi telah dapat merekayasa obat hingga dapat mencapai sasaran dengan dosis yang tepat, termasuk peluang untuk mengatasi penyakit-penyakit berat seperti tumor, kanker, HIV dan lain lain.

Aplikasi nanoteknologi dalam industri sangat luas yaitu orang dapat membuat pesawat ruang angkasa dari bahan komposit yang sangat ringan tetapi memiliki kekuatan seperti baja. Orang dapat memproduksi mobil yang beratnya hanya 50 kilogram.
Mantel hangat yang sangat tipis dan ringan bisa menjadi tren di masa mendatang dengan bantuan nanoteknologi.

Berbagai terobosan dapat dilakukan dengan nanoteknologi untuk menggantikan bahan baku industri yang kian langka. Jepang, misalnya, pada 1997 membuat proyek ultra baja untuk mengembangkan teknologi konservasi baja yang memiliki kekuatan dua kali lipat dari baja biasa, sehingga pemakaiannya dapat lebih efisien. Hal ini dapat menjadi solusi bagi krisis baja yang melanda dunia beberapa bulan terakhir akibat melonjak tajamnya permintaan baja dari Cina. Mulai tahun 2010, produk-produk industri dalam skala apa pun akan menggunakan material hasil rekayasa nanoteknologi.

Perkembangan pesat ini akan mengubah wajah teknologi pada umumnya karena nanoteknologi merambah semua bidang ilmu. Tidak hanya bidang rekayasa material seperti komposit, polimer, keramik, supermagnet, dan lain-lain. Bidang-bidang seperti biologi (terutama genetika dan biologi molekul lainnya), kimia bahan dan rekayasa akan turut maju pesat. Manusia akan mengecat mobil dengan cat nanopartikel yang mampu memantulkan panas sehingga kendaraan tetap sejuk walau diparkir di panas terik matahari. Kawat tembaga nantinya akan sangat jarang digunakan (terutama dalam hardware computer) karena digantikan dengan konduktor nanokarbon yang lebih tinggi konduktivitasnya.

Nanoteknologi juga sudah berhasil menyodorkan suatu material hebat yang sangat ringan, tetapi kekuatannya 100 kali lebih kuat dari baja. Material hebat ini diberi nama Carbon Nano-Tube (CNT). Material ini hanya tersusun dari atom karbon (C), seperti grafit dan berlian. Kuat tetapi sangat ringan sehingga menara dapat dibuat lebih tinggi dan kabel dapat dibuat lebih panjang dan kuat tanpa takut jatuh/roboh karena beratnya sendiri. Hal berikut yang sangat dibutuhkan adalah sesuatu yang cukup berat yang mengorbit mengelilingi bumi. Asteroid dapat dimanfaatkan untuk tujuan ini. Asteroid ini berfungsi sebagai beban yang menstabilkan kabel serta satelit geostasioner yang sedang mengorbit itu. Tanpa beban penstabil (counterweight), kabel dan satelit bisa jatuh menimpa bumi karena tertarik gravitasi, walaupun bahan konstruksinya merupakan material yang sangat ringan. Asteroid ini nantinya dihubungkan dengan satelit menggunakan kabel yang sama. Asteroid ini dapat diarahkan supaya mengorbit pada ketinggian tertentu mengelilingi bumi dengan cara menembaknya dengan rudal. Tabrakan dengan rudal tersebut dapat menggeser posisi asteroid sehingga berada pada jangkauan gravitasi bumi. Asteroid akan terus mengorbit mengelilingi bumi pada ketinggian yang sama.

Nanoteknologi menjadikan beton konstruksi bangunan dua kali lebih kokoh, tahan gempa, kedap air laut dengan ditemukannya bahan konstruksi nanosilika, suatu jenis mineral yang melimpah ruah di Indonesia dan diolah melalui teknologi nano. Dengan mencampur beton dengan 10 persen bahan nano-silica, kekuatan bertambah menjadi dua kali lipatnya.

Nanoteknologi telah dianggap sebagai ilmu pengetahuan baru di masa mendatang, dengan inovasi terbaru menggunakan partikel mikro yang dapat digunakan untuk menghilangkan kerut wajah, memperkokoh botol kemasan, dan membersihkan pakaian tanpa air. Studi awal juga meng-indikasikan beberapa dari partikel-partikel tersebut, yang dipergunakan dalam teknik mesin terbaru, dapat mengakibatkan kanker.
Dengan menciptakan zat hingga berukuran satu per miliar meter (nanometer), sifat dan fungsi zat tersebut bisa diubah sesuai dengan yang diinginkan. Sehelai rambut manusia, secara kasarnya memiliki diameter 80.000 nanometer. Itu berarti ukurannya bisa mencapai 100.000 kali lebih kecil dari diameter sehelai rambut manusia.
Seluruh benda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari tersusun dari atom-atom berukuran nano. Para ilmuwan mengatakan bekerja dengan partikel-partikel ini dapat memberi harapan untuk membangun mesin miniatur atom demi atom, sama seperti setiap mahkluk hidup juga tersusun dari atom.
Partikel nano sangat kecil sehingga dapat masuk melalui sebuah membran sel tanpa diketahui namun dapat membawa cukup besar materi asing di antara untaian DNA. Masalahnya adalah bahwa partikel-partikel ini dapat membahayakan tubuh manusia, dan ilmuwan membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum mereka benar-benar dapat memahami efek yang dihasilkan dari penggunaan nanoteknologi ini. Informasi technologi ini dirangkum dari berbagai sumber

Thursday, 31 January 2013 03:33

Indonesia memasuki Teknologi Nano

Written by

Nano teknologi berfungsi meningkatkan produktivitas pertanian, pengolahan makanan dan pengemasan. Beberapa bidang pertanian yang menerapkan teknologi nano, antara lain : pembibitan tanaman, pembibitan hewan, obat hewan, pestisida, industri pakan, industri obat herbal, infrastruktur pertanian dan neutraceutical.

“Tahun 2012 Indonesia memasuki era teknologi nano. Teknologi yang satu ini tidak sebatas digunakan membuat nanomaterial bagi piranti mikroelektronik, akan tetapi juga bagi industri lain, seperti pertanian dan pangan.”

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Masyarakat Nano Indonesia, Dr. Nurul Taufiqu Rochman pada Seminar Nasional Sains dan Teknologi 3 yang diselenggarakan Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim, belum lama ini.

Dalam presentasinya berjudul “Rekayasa dan Inovasi Nanoteknologi dalam Upaya Peningkatan Daya Saing Produk-Produk Pertanian dan Pangan, Dia memaparkan mengenai perlunya penguasaan teknologi rekayasa proses, mengingat saat ini diukur dari segi kesiapan teknologi, daya saing global, Indonesia hanya menempati peringkat 91.

“Saat ini sektor pertanian menyumbang 13%  dari total PDB Indonesia. Padahal sektor pertanian dapat menjadi unggulan, mengingat karakteristik Indonesia sebagai negara agraris. Salah satu usaha yang dapat dilakukan guna mengedepankan sector pertanian, yakni dengan menerapkan teknologi rekayasa proses, semisal teknologi nano” tandasnya.

Berdasarkan kajian dan survey, Dr. Nurul menambahkan, ada lima bidang industri yang berpotensi menerapkan teknologi nano, yaitu industri pupuk, pestisida, pangan, obat herbal dan kemasan.

Sementara itu, Wakil Direktur LPPOM MUI, Muti Arintawati, M.Si mengatakan, rekayasa proses pengolahan pangan hendaknya tetap mengedepankan hak-hak konsumen untuk mendapatkan produk halal.

Sedangkan menurut praktisi dari PT. Sido Muncul,  Risdiyanto, MT. IPP menyampaikan, industri memang dituntut  menerapkan teknologi rekayasa proses dan berbagai inovasi  untuk meningkatkan daya saing.

Pada sesi presentasi makalah, artikel ilmiah yang dipresentasikan berjumlah 81, dan dikelompokkan kedalam 7 kelompok, yakni kimia obat dan pangan, energi, material, perancangan manufaktur, sipil dan arsitektur, elektronika dan teknik informatika, teknik industri. Artikel-artikel tersebut disajikan oleh pemakalah dari berbagai institusi perguruan tinggi, antara lain UNDIP, UNS, UMS, UGM, UMK, UDINUS, UNISBANK, POLINES, UNISSULA, UNSA

sumber : kopertis6.or.id